Jakarta, U3NEWS.com – Mahkmah Agung (MA) kembali memutuskan pasal-pasal yang merugikan konsumen dilarang dipakai dalam setiap perjanjian. Masyarakat Indonesia yang umumnya kurang paham dengan bahasa hukum sering kecele dengan syarat-syarat yang tertuang dalam perjanjian.

MA mengakui masih banyak pelaku usaha menggunakan pasal-pasal dengan huruf-huruf kecil, berlembar-lembar dan bahasa yang susah. Alhasil, perjanjian itu pun mengecoh masyarakat.

“Dalam perjanjian baku, tidak saja dibuat dengan format kalimat yang sulit dimengerti, tetapi juga banyak halaman. Bahkan tulisan ditulis dengan font kecil-kecil,” kata Kepala Biro Hukum dan Humas MA, Ridwan Mansyur, saat berbincang dengan detikcom, Selasa (10/9/2013).

Berikut 3 kasus ‘pasal jebakan’ di perjanjian yang berakhir dengan kemenangan konsumen:

1. Kendaraan Hilang di Tempat Parkir

Saat memarkir kendaraan, pengelola memberikan karcis yang bertuliskan kurang lebih ‘kendaraan hilang, pengelola tidak bertanggung jawab’. Nah, oleh MA pasal ini dihapus karena merugikan konsumen.

Awal mula kasus ini mencuat saat Anny R Gultom dan anaknya, Hontas Tambunan, melayangkan gugatan terhadap Secure Parking terkait hilangnya mobil Toyota Kijang Super pada 1 Maret 2000. Dari tingkat pengadilan pertama hingga MA, pengelola parkir menghukum pengelola parkir untuk mengganti hilangnya kendaraan itu.

“Klausul-klausul baku dalam karcis parkir adalah perjanjian yang berat sebelah alias sepihak. Perjanjian semacam itu adalah batal demi hukum,” kata ketua majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarat Pusat (PN Jakpus) Andi Samsan Nganro dalam amar putusannya kala itu.

Putusan ini lalu diikuti berbagai kasus yang memenangkan pemilik kendaraan. Terakhir yaitu MA menghukum pengelola parkir di Samarinda. Hukuman dijatuhkan kepada pengelola parkir Mal Lembuswana, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) Rp 17,5 juta atau sama dengan harga sepeda motor Ramdhan yang hilang.

2. Bagasi Hilang di Pesawat

MA juga mengabulkan permohonan ganti rugi bagasi yang hilang melebihi aturan yang ada. Di pasal 44 ayat 1 PP No 3/2000 tentang tanggung jawab pengangkut menyebutkan ganti rugi kerugian bagasi Rp 100 ribu per kg.

Dalam kasus hilangnya bagasi Herlina Sunarti saat menumpang Lion Air, MA tak mengindahkan klausul tersebut. Herlina menggunakan Lion Air dari Jakarta ke Semarang pada 4 Agustus 2011.

Sesampainya di Bandara Ahmad Yani Semarang, tas Polo warna hitam yang berisi kosmetik dan pakaian hilang.

Setelah menempuh jalur hukum, maskapai berlogo singa terbang ini harus mengganti bagasi penumpang yang hilang sebesar Rp 25 juta.

3. Perjanjian Jual Beli Rumah

Kasus ini menimpa Martinus Teddy Arus Bahterawan saat membeli rumah di Perumahan Palm Residance Jambangan, Surabaya, dengan pengembang PT Solid Gold pada 2007. Namun pada 2009, dia merasa terjebak dengan adanya pasal yang merugikan dirinya.

Klausul yang dimaksud yaitu ‘…maka seluruh uang yang telah dibayarkan menjadi hak milik PT Solid Gold dan tidak dapat dituntut kembali’. Dalam SPJBR juga termuat kalimat ‘…seluruh uang yang telah dibayarkan oleh pihak kedua kepada pihak kesatu menjadi hangus dan tidak dapat dituntut kembali’.

Akibat klausul itu, jika Teddy membatalkan jual beli maka didenda Rp 84.700.936 dan apabila meneruskan maka didenda Rp 48.888.000. Teddy tidak terima dan menang di tingkat kasasi.

Teddy merasa dirugikan dan menggugat PT Solid Gold ke pengadilan atas perjanjian jual beli rumah di antara mereka. Oleh MA gugatan ini dikabulkan. MA menganulir ‘pasal jebakan’ dalam perjanjian itu.

“Konsumen perumahan selama ini memang menjadi ‘korban’ pencantuman klausula baku mengingat pihak developer menganggap posisinya lebih dominan dari pelaku usaha,” kata Ketua Komisi Sosialisasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) David Tobing.