Jakarta, EDITOR.ID,- Dr Urbanisasi, dosen Universitas Tarumanegara akhirnya mencapai salah satu puncak Gunung Himalaya yang jaraknya hanya satu kilo dari Mount Everest. Pengacara dari Urban Law Office ini langsung berselfie menancapkan spanduk almamaternya di salah satu puncak dimana ia bisa menggapainya.

Urbanisasi berangkat dari Jakarta ke Nepal dan Tibet dalam rangka melakukan penelitian bersama 12 peneliti yang tergabung dalam Hunter Socials Science International Research Team. Ia sangat tersanjung mendapat undangan dari St Peterbugh, Rusia untuk ikut dalam tim penelitian ini.

WhatsApp Image 2018-01-09 at 14.41.04

Urbanisasi adalah satu-satunya peneliti asal Indonesia. Peneliti lainnya berasal dari negara Rusia, Italia, India, China, Thailand, dan Austria. Selain mendaki gunung Himalaya, para peneliti ini juga melakukan riset mengenai antropologi dan sosiologi masyarakat Tibet di Nepal.

Sejatinya Urbanisasi ingin menaklukkan Mount Everest. Namun langkahnya terhenti. Saat perjalanan ke salah satu puncak mendekati Mount Everest Urbanisasi mengalami kehabisan oksigen.

“Tadinya saya bersemangat bisa mencapai Everest, tapi ditengah perjalanan tiba-tiba lemas tak sadarkan diri tergeletak jatuh pingsan ditolong oleh pemandu, kaki rasanya berat untuk berjalan, nafas terengah-engah,” ujar Urbanisasi ketika dihubungi melalui teleponnya, Selasa (9/1/2018)

Urbanisasi baru menyadari bahwa untuk mencapai Puncak Everest memang hanya dilakukan oleh climbers (pendaki) yang sudah profesional dan memiliki pengalaman mendaki di beberapa puncak gunung di dunia.

“Tidak mudah untuk mendaki di Everest tebingnya sangat curam bahkan mirip tembok kita setengah merayap kalau kesana, sampai disini saja saya sudah bangga, karena untuk mencapai kesini saja belajarnya satu bulan, penyesuaian suhu udara tidak mudah,” kata Urban.

Dalam cuaca minus 10 derajat celcius, Urbanisasi sudah bangga bisa merasakan perjalanan hingga salah satu puncak Gunung Himalaya meski belum menyentuh Mount Everest. Karena kondisinya sempat kehabisan oksigen turunnya dari gunung Urbanisasi dijemput Helikopter.

WhatsApp Image 2018-01-09 at 13.19.46

“Saya merasakan perjalanan ke Gunung Himalaya ini pengalaman yang sangat luar biasa dahsyat, saya bisa menyatu dengan masyarakat Tibet, mengenali mereka dari dekat, makan bersama mereka,” kata Urbanisasi.

Kehadiran orang Indonesia ke Tibet dan Nepal, menurut Urbanisasi disambut hangat. “Orang disana sangat suka sama orang Indonesia, karena bentuk fisik kami sama dan konon orang Indonesia masih keturunan leluhur yang sebenarnya berasal dari bangsa Yunan atau daratan dekat Tibet yang masih satu rumpun dengan suku mereka,” kata Urban.

Urbanisasi bersama 12 peneliti dari Hunter Socials Science International Research Team sedang melakukan penelitian mengenai adat istiadat masyarakat Tibet di Nepal. “Bagaimana kehidupan mereka, tradisi mereka hingga budaya mereka, ini saya lagi mengikuti upacara prosesi pemakaman warga disana yang meninggal,” kata Urbanisasi bercerita mengenai posisinya setelah melakukan pendakian.

Ada yang menarik dari hasil kajian dan penelitian dari Urbanisasi. “Masyarakat setempat di Tibet punya keyakinan kuat bahwa umur mereka hidup didunia tidak melebihi dari 57 tahun, hal itulah yang membuat mereka menggunakan kesempatan hidup mereka yang sangat singkat di dunia untuk mengabdi pada kelestarian alam demi anak cucu mereka, fenomena ini yang kami teliti,” kata Urbanisasi.

WhatsApp Image 2018-01-09 at 13.06.02

Mayoritas masyarakat Tibet berprofesi sebagai petani. Lahan pertanian mereka sangat luas dan indah sekali.

“Kearifan lokal mereka dalam menjaga keutuhan alam bisa menjadi contoh kepada kita bagaimana mereka bersimbiosis dengan alam, tanpa mengubah bentuk aslinya atau merusak alam hanya demi mengejar ekonomi, saya benar-benar merasakan pemandangan sangat takjub, alam asli tidak diubah atau dirusak, orang-orang Tibet benar-benar sangat menghormati lingkungan alam mereka agar tetap terjaga keasliannya,” kata Urban.

Namun ada satu yang mengusik perjalanan penelitian Urbanisasi ke Tibet. Ia melihat Kota Nepal diselimuti debu gunung yang bertebaran di udara. Hal ini membuat kota Nepal terlihat kumuh dan kotor karena diselimuti debu. Dan debu yang banyak ini membuat kesehatan masyarakat Tibet terganggu. “Mungkin debu ini yang menyebabkan orang disini banyak sakit, mereka banyak menghirup udara berdebu,” papar Urban.

Urbanisasi juga punya pengalaman mengenali makanan khas di kota Nepal. “Makanan disini kalau di Indonesia kayak rendang masakan Padang, agak berbau masakan India. kebanyakan pedas menggunakan lada dan santan semacam masakan kare. Ya kita harus siap makan santan kare dan daging domba,” ujar Urban. (tim)

 

Sumber : http://editor.id/